Kabupaten Seruyan merupakan salah satu Kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Tengah dengan luas wilayah ± 16.404 Km2 atau ± 1.670.040,76 Ha yaitu 11,6 % dari luas wilayah Kalimantan Tengah.

Persentase Luas Wilayah Kabupaten Seruyan Menurut Kecamatan

  • Suling Tambun
  • Seruyan Hilir
  • Seruyan Hilir Timur
  • Danau Sembuluh
  • Seruyan Raya
  • Hanau
  • Danau Seluluk
  • Seruyan Tengah
  • Batu Ampar
  • Seruyan Hulu

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kabupaten Katingan, Kabupaten Seruyan, Kabupaten Sukamara, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Murung Raya, dan Kabupaten Barito Timur di Provinsi Kalimantan Tengah (Lembaran  Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 18, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4180), luas wilayah Kabupaten Seruyan ± 16.404 Km2 (11,6 % dari luas wilayah Kalimantan Tengah).

Secara administratif, untuk mendekatkan pelayanan Pemerintah Daerah kepada seluruh lapisan masyarakat, maka pada tahun 2010 melalui Peraturan Daerah Kabupaten Seruyan Nomor 6 Tahun 2010, telah dilakukan pemekaran dari 5 kecamatan menjadi 10 kecamatan yang terdiri dari 97 desa dan 3 kelurahan, daftar kecamatan dimaksud disajikan pada Tabel dibawah ini.

Luas Wilayah Kabupaten Seruyanmenurut Kecamatan, Desa dan Kelurahan

geografisseruyan-table-daerah1

Posisi astronomi Kabupaten Seruyan terletak antara 0077’ – 3056’ Lintang Selatan dan 111049’ – 112084’ Bujur Timur. dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Melawai Provinsi Kalimantan Barat.
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Jawa;
  3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Kotawaringin Timur;
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lamandau.

Dilihat dari peta regional Kalimantan Tengah, Kabupaten Seruyan terletak di tengah-tengah sehingga hal ini merupakan posisi geostrategis. Dengan posisi Kabupaten Seruyan yang langsung berbatasan dengan Laut Jawa, warga dari Kabupaten Malawi, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Kotawaringin Timur, yang akan ke Pulau Jawa dan Sumatera, akan lebih dekat jika melewati Kabupaten Seruyan daripada harus ke Kota Banjarmasin. Jadi, posisi geostrategis ini akan meningkatkan keunggulan komparatif pelabuhan laut Kuala Pembuang yang dimiliki Kabupaten Seruyan, terutama akan menarik perekonomian dari kabupaten yang ada di sekitar wilayah Kec. Seruyan Hilir. Kondisi atau kawasan kabupaten Seruyan meliputi pertanian, perkebunan, hutan, perikanan, peternakan, pertambangan, pariwisata, industri kecil dan menengah.

Kabupaten Seruyan memiliki topografi bervariasi membujur secara vertikal dari selatan ke utara. Wilayah Seruyan bagian selatan sampai bagian tengah, dan melebar dari arah Timur ke Barat meliputi kawasan pantai dan dataran rendah yang bersifat datar, melandai dari selatan ke tengah dengan kemiringan 0–1% terletak antara 0–4 m dari permukaan laut. Sedangkan wilayah bagian tengah sampai utara merupakan dataran tinggi yang berbukit. Berdasarkan peta Geologi 1:250.000 oleh Pusat Penelitian Pengembangan Geologi, Kabupaten Seruyan memiliki 11 (sebelas) formasi Geologi, yaitu:

  1. Endapan Aluvial (Qa) berumur holosen
  2. Endapan Rawa (Qar) berumur holosen
  3. Endapan Sungai (Qs) berumur holosen
  4. Formasi Dahor (TQd) berumur pliosen-miosen
  5. Intrusi Sintang (Toms) berumur ologosen akhir
  6. Batuan Gunungapi kerabai (Kuk) berumur kapur atas
  7. Granit Mandahan (Kgm) berumur kapur
  8. Formasi Granit Sukadana (Kus) berumur kapur atas
  9. Tonait Sepauk (Kls) berumur kapur atas
  10. Formasi Kuayan (TRvk) berumur trias
  11. Batuan Malihan Pinoh (PzTRp) berumur perem awal

Peta Wilayah Kabupaten Seruyan

map

Dari 11 formasi batuan diatas terdapat 4 formasi batuan yang rawan erosi dan tanah longsor. Hal tersebut dapat dilihat dari karakteristik unsur batuan penyusun formasi tersebut, dalam hal ini jenis batuan, tingkat permeabilitas, kekompakan, ukuran butir, dan mineral penyusunnya. Formasi atau satuan batuan tersebut adalah Endapan Aluvial (Qa), Endapan Rawa (Qar), Endapan Sungai (Qs) dan Formasi Dahor (TQd).

Selain hal tersebut perlu diperhatikan struktur geologi yang mempengaruhi formasi batuan di Kabupaten Seruyan. Ada beberapa formasi dibagian utara kabupaten Seruyan yang didominasi oleh struktur lipatan dan sesar yang berpengaruh kuat terhadap tingkat kerawanan bencana tanah longsor dan banjir.

Umur Geologi Formasi dan Satuan Batuan Pada Wilayah Kabupaten Seruyan

geologi

Potensi kandungan yang terdapat pada Kabupaten Seruyan bisa tergambarkan dengan kondisi tanah. Gambaran kondisi tanah sangat diperlukan untuk mengidentifikasi potensi sumberdaya lahan serta rencana pemanfaatan sesuai dengan potensi yang dimiliki agar dapat digunakan secara lestari dan berkelanjutan. Sistem lahan merupakan pengelompokan lahan berdasarkan sifat-sifat fisik utama permanen yang tidak berubah dalam jangka waktu cukup lama.

Berdasarkan data dari Peta RePPProT (1985), dijumpai 19 asosiasi jenis tanah di Kabupaten Seruyan, sebagai berikut:

  1. Puting (PTG).Sistem lahan ini menempati landform punggung bukit pinggir pantai. Berkembang dari bahan induk sedimen marin, mineral tergolong campuran, tekstur kasar. Singkapan batuan 0 %. Kemiringan < 2 %, datar. Pola aliran sungai termasuk tipe parallel. Ketinggian antara 0 – 3 m dpl.
  1. Kajapah (KJP). Sistem lahan ini menempati landform daerah pasang surut. Berkembang dari bahan induk sedimen estuarin-marin. Jenis mineral tergolong campuran, tekstur halus. Ketinggian tempat antara 0 – 3 m dpl. Pola aliran sungai termasuk tipe reticulate.
  1. Kahayan (KHY). Sistem lahan ini menempati landform dataran banjir, meliputi 80% daerah dataran banjir, batas rawa 10 % dan tanggul 10%. Berkembang dari bahan induk sedimen sungai, sedimen estuarin-marin dan bahan organik. Jenis mineral tergolong campuran, tekstur halus, singkapan batuan 0%, resiko banjir tergolong tinggi. Kemiringan < 2 %, datar. Pola aliran sungai termasuk tipe meander. Ketinggian tempat antara 0 – 10m dpl.
  1. Sebangau (SBG). Sistem lahan ini menempati landform dataran banjir dan daerah sedimentasi sungai meander, meliputi 40 % berupa tanggul sungai, dataran banjir 30 % dan rawa belakang 30 %. Berkembang dari bahan induk sedimen sungai. Jenis mineral tergolong mineral campuran. Singkapan batuan 0 %. Ketinggian tempat antara 0 m dpl. Kemiringan < 2, datar. Pola aliran sungai termasuk tipe meander.
  1. Klaru (KLR). Sistem lahan ini menempati landform dataran banjir permanent. Berkembang dari bahan induk sedimen sungai, bahan organik dan sediment pasir tua. Jenis mineral tergolong campuran, halus. Singkapan batuan 0 %. Ketinggian tempat berada antara 2 – 10 m dpl. Kemiringan lahan < 2 %, datar dan pola aliran sungai termasuk tipe sinuous.
  1. Mendawai (MDW). Sistem lahan ini menempati landform batas rawa gambut (rawa gambut dangkal), meliputi 90% batas rawa dan 40% berupa batas cekungan rawa. Berkembang dari bahan induk bahan organik, sediment sungai dan sedimen estuarin-marin. Jenis mineral tergolong campuran, halus. Singkapan batuan 0 %. Ketinggian tempat antara 0 – 10m dpl. Kemiringan < 2 %, datar. Pola aliran sungai termasuk tipe sinuous.
  1. Gambut (GBT). Sistem lahan ini menempati landform kubah gambut. Berkembang dari bahan induk endapan bahan organik. Ketinggian antara 0 – 10 m dpl, kemiringan < 2 %, datar. Pola aliran sungai termasuk tipe sinuous. Komposisi tanah terdiri dari asosiasi Tropohemists dan Tropofibrists. Kedalaman gambut termasuk sangat dalam (> 200 m). Tanah mempunyai pH antara 4,6 –5,0 (kemasaman sangat kuat), KTK sangat tinggi, ketersediaan unsur K dan Ptersedia rendah dan salinitas < 4 mmhos/cm2.
  1. Serimbang (SRM). Sistem lahan ini menempati landform teras dengan lembah gambut. Berkembang dari bahan induk bahan organik dan sedimen sungai. Jenis mineral tergolong mineral kuarsa, kasar. Singkapan batuan 0 %. Ancaman banjir musiman rendah. Ketinggian tempat antara 0 – 5 m dpl. Kemiringan < 2 %, datar. Pola aliran sungai tergolong tipe sinuous.
  1. Segintung (SGT). Sistem lahan ini menempati landform teras berpasir, berkembang dari bahan induk sedimen pasir tua. Jenis mineral tergolong mineral kuarsa, kasar. Singkapan batuan 0%. Ketinggian temapt antara 2 – 5m dpl. Kemiringan < 2 %, datar.
  1. Barah (BRH). Sistem lahan ini menempati landform teras datar berpasir dan ditutupi oleh gambut tipis, meliputi 99 % berupa teras gambut dan 1% daerah lembah. Berkembang dari bahan induk sedimen pasir tua dan bahan organik. Jenis mineral tergolong mineral kuarsa. Singkapan batuan 0 %. Ketinggian tempat antara 5 – 10 m dpl, kemiringan lemiringan < 2%, datar.
  1. Pakau (PKU). Sistem lahan ini menempati landform teras bergelombang berpasir, meliputi 80 % daerah permukaan, tebing 15 % dan lembah 5 %. Berkembang dari bahan induk sedimen alluvium pasir tua. Jenis mineral tergolong mineral kuarsa, kasar. Singkapan batuan 0 %. Ketinggian tempat antara 5 – 100 dpl, kemiringan 2 – 8%, agak datar, panjang lereng > 500 m dan bentuk lereng cembung. Pola aliran sungai termasuk tipe pinnate.
  1. Bawin (BWN). Sistem lahan ini menempati landform dataran bergelombang dan sisa teras, meliputi 65 % daerah miring, teras 25 % dan dasar lembah 10 %. Berkembang dari bahan induk batuan sedimen. Jenis batuan terdiri dari sediment pasir tua, batupasir dan batu lanau. Jenis mineral tergolong mineral kuarsa. Singkapan batuan 10 %. Ketinggian tempat antara 5 – 100 m dpl. Kemiringan 9 – 15 %, bergelombang, panjang lereng 101 – 200 m dan bentuk lereng cembung. Pola aliran sungai termasuk tipe dendritik dan pinnate.
  1. Lawanguwang (LWW). Sistem lahan ini menempati landform dataran bergelombang dengan beberapa lembah lebar, meliputi 70 % berupa daerah miring dan 30 % dasar lembah. Berkembang dari bahan induk batuan sedimen. Jenis batuan terdiri dari mudstone, batupasir dan sedimen sungai. Jenis mineral tergolong mineral felsik, halus. Singkapan batuan 0 %. Ketinggian tempat berada antara 20 – 150 m dpl. Kemiringan lahan 2 – 8 %, agak datar, panjang lereng < 50m dan bentuk lereng cembung. Pola aliran sungai termasuk tipe dendritik. Kualitas air tanah tergolong baik. Sumber air untuk rumah tangga (domestik) berasal dari air hujan dan air sungai. Rata-rata curah hujan tahunan 2.800 – 4.100 mm, dengan BB 7 – 11 bulan dan BK 0 – 1 bulan. Rata-rata suhu 20 – 32oC.
  1. Teweh (TWH). Sistem lahan ini menempati landform dataran berbukit, meliputi 95% daerah miring dan 5% berupa puncak. Berkembang dari bahan induk batuan sediment. Jenis batuan terdiri dari batupasir dan shale. Jenis mineral tergolong mineral campuran, sedang dan kasar. Singkapan batuan 0 %. Ketinggian tempat antara 20 – 300m dpl. Kemiringan 16 – 25 %, agak curam, panjang lereng 50 – 100 m dan bentuk lereng cembung. Pola aliran sungai termasuk tipe dendritik. Sumber air untuk rumah tangga (domestik) berasal dari air hujan dan air sungai. Rata-rata curah hujan tahunan 2.700 -4.100 mm, dengan BB 7 – 12 bulan dan BK 0 – 2 bulan. Rata-rata suhu 20 – 32oC. Penggunaan lahan berupa perladangan dan hutan dataran rendah.
  1. Rangankau (RGK). Sistem lahan ini menempati landform dataran bergelombang, meliputi 70 % berupa daerah lereng dan 30 % lembah. Berkembang dari bahan induk batuan metamorfik dan batuan plutonik. Jenis batuan terdiri dari andesit, basalt, sediment sungai, granit dan schist. Jenis mineral tergolong mineral intermediet, felsik dan basalt. Singkapan batuan 5 %. Ketinggian tempat antara 5 – 50 m dpl. Kemiringan 2 – 8 %, agak datar, panjang lereng < 50 m dan bentuk lereng cembung. Pola aliran sungai termasuk tipe dendritik.
  1. Honja (HNJ). Sistem lahan ini menempati landform dataran berbukit, meliputi 90% daerah berlereng dan 10 % berupa puncak. Berkembang dari bahan induk batuan plutonik dan batuan metamorfik. Jenis batuan terdiri dari andesit, basalt, granit, granodiorite dan schist. Jenis mineral tergolong mineral felsik, intermediet dan basik. Ketinggian tempat antara 20 – 300 m dpl. Kemiringan 16–25 %, bergelombang, panjang lereng 50–100 m dan bentuk lereng cembung. Pola aliran sungai termasuk tipe dendritik.
  1. Pakalunai (PLN). Sistem lahan ini menempati landform perbukitan agak curam, meliputi 100 % berupa daerah miring. Berkembang dari bahan induk batuan plutonik dan batuan metamorfik. Jenis batuan terdiri dari granit, schist, basalt, phyllite, granodiorit. Jenis mineral tergolong mineral felsik dan intermediet. Singkapan batuan 5%. Ketinggian tempat antara 50–880 m dpl. Kemiringan 16–25%, agak curam, panjang lereng 500–1.000 m dan bentuk lereng gabungan. Pola aliran sungai termasuk tipe dendritik.
  1. Juloh (JLH). Sistem lahan ini menempati landform lereng bukit, meliputi 90 % daerah berlereng dan 10 % berupa singkapan batuan. Berkembang dari bahan induk batuan plutonik dan batuan metamorfik. Jenis batuan terdiri dari schist , gneiss, kuarsa dan rhyolitte. Jenis mineral tergolong mineral felsik dan intermediet. Singkapan batuan 10 %. Ketinggian tempat antara 50 – 880 m dpl. Kemiringan 26 – 40 %, curam, panjang lereng 101 – 200 m, dan bentuk lereng lurus. Bahaya erosi berupa erosi parit dan longsor dapat terjadi secara setempat. Pola aliran sungai termasuk tipe dendritik.
  1. Bukit Pandan (BPD). Sistem lahan ini menempati landform gunung, meliputi 90 % daerah miring dan 10 % berupa singkapan batuan. Berkembang dari bahan induk batuan metamorfik. Jenis batuan terdiri dari gneiss, phyllite, kuarsa dan schist. Jenis mineral tergolong mineral felsik dan intermediet. Singkapan batuan 10 %. Ketinggian tempat antara 100 – 2.280 m dpl. Kemiringan > 60 %, sangat curam, panjang lereng > 500 m dan bentuk lereng lurus. Pola aliran sungai termasuk tipe radial.

Secara umum pola sungai di Kabupaten Seruyan adalah pola dendritik dimana salah satu sifat utamanya adalah apabila terjadi hujan merata di seluruh daerah aliran sungai, maka puncak banjirnya akan demikian tinggi hingga mempunyai potensi besar untuk menggenangi daerah yang ada di sekitar aliran sungai, khususnya di bagian hilir sungai. Sungai Seruyan dengan panjang sekitar 350 km, merupakan sungai utama yang mengalir dari pegunungan Schwaner di utara menuju Laut Jawa di bagian Selatan. Dari Sungai Seruyan ada 6 (enam) buah anak sungai yang besar dan dapat digunakan sebagai sumber air maupun sebagai sarana transportasi. Keenam anak sungai tersebut adalah Danau Sembuluh, Kuala Besar, Manjul, Salau, Pukun, dan Kale. Air sungai tersebut telah dimanfaatkan oleh penduduk untuk mandi, cuci, kakus (mck), air minum, serta irigasi persawahan. Selain air sungai penduduk juga memanfaatkan air tanah dengan kedalaman air tanah berkisar antara 1 sampai 7 meter pada sistem lahan dataran seperti di Kecamatan Seruyan Hilir.

Kabupaten Seruyan dilaporkan terdapat sebanyak 45 buah danau yang memungkin untuk dikembangkan menjadi tempat budidaya ikan. Secara rinci nama-nama danau di Kabupaten Seruyan disajikan pada Tabel dibawah ini :

Nama-Nama Danau di Kabupaten Seruyan

geografis-seruyan-table2

Kabupaten Seruyan termasuk kategori Tipe Iklim A yaitu Sangat Basah. Hal itu tergambar dari hasil perhitungan perhitungan jumlah bulan-bulan terkering dan bulan-bulan basah setiap tahun kemudian dirataratakan, yang hasil nilainya yaitu sebesar 0,124 (Q = 0,124). Menurut RePPProT Curah di Kabupaten Seruyan cukup tinggi dengan curah hujan tahunan terendah 2.300 mm/tahun dan tertinggi mencapai 4.300 mm/tahun. Jumlah bulan basah terendah berkisar dari 0-5 bulan dalam setahun dan jumlah bulan basah tertinggi berkisar antara 6-11 bulan. Sedangkan jumlah bulan kering relatif kecil yaitu 0–1 bulan dalam setahun dan jumlah bulan kering tertinggi berkisar 5–6 bulan dalam setahun. Rata-rata suhu di Kabupaten Seruyan yaitu 20–32oC dengan kelembaban relatif (RH)  rata-rata 75 %.